
Membaca Injil Yudas tidak bisa dilepas dari pemahaman kaum gnostik, karena kitab ini merupakan salah satu kitab yang diyakini oleh orang-orang beraliran gnostik sebagai suatu kebenaran. Gnostik berarti 'pengetahuan', sehingga kaum gnostik dapat diartikan sebagai orang-orang yang memiliki suatu pengetahuan, biasanya pengetahuan rahasia menuju surga. Bertentangan dengan kitab-kitab Kanonik, ajaran ini percaya bahwa seseorang masuk surga bukan karena mempercayai Kristus atau melakukan perbuatan baik tetapi karena memiliki pengetahuan akan Allah, akan dirinya sendiri dan akan dunia ini. Mereka yakin bahwa manusia adalah percikan api ilahi yang terperangkap dalam tubuh jasmani, sehingga manusia harus memiliki pengetahuan untuk lepas dan menuju surga. Tokoh-tokoh Alkitab mereka merupakan orang-orang jahat dalam konsep orang Kristen konservatif seperti Kain, orang-orang Sodom dan Yudas Iskariot, karena mereka percaya Allah dalam Alkitab merupakan allah yang jahat, lebih rendah (inferior) dan tidak pantas dipuja. Mereka yakin bahwa Kain dan Yudas menemukan pengetahuan rahasia mengenai kebenaran yang membawa perlawanan kepada Allah dalam kitab Kanonik.
Kitab Yudas disajikan pada awal buku ini. Sebagian besar naskah ini kehilangan banyak sekali kata-kata dan kalimat akibat robek dan hancur. Berdasarkan penjelasan sejarahnya, kitab ini ditulis sekitar 250 tahun sesudah Yesus (bandingkan dengan kitab Markus, 60 tahun sesudah Yesus) dan baru ditemukan pada abad ini. setelah banyak sekali berpindah tangan dan mengalami pemeliharaan yang tidak layak, kitab aslinya mengalami kerusakan disana-sini sehingga banyak sekali teks yang hilang baik berupa huruf, baris bahkan beberapa halaman yang robek, tertindih dan terhapus akibat lipatan yang asal-asalan. Walaupun secara umum kita tahu bahwa Yudas Iskariot merupakan pengkhianat, kitab ini tidak menceritakan secara eksplisit mengenai kisah atau rencana pengkhianatan tersebut. Sehingga penulis mungkin merasa perlu untuk memberikan penjabaran yang baik mengenai sejarah dan konsep pengajaran agnostic dan menjelaskan hubungan-hubungan dengan kitab lain yang berbau agnostic.
Meskipun isi kitab ini menyerang Kekristenan secara frontal baik karena mengaanggap bahwa Yesus bukan Tuhan maupun penokohan Yudas Iskariot sebagai pahlawan, kitab ini tetap menjadi sebuah referensi berharga bagi ilmu pengetahuan. Terlepas dari isi yang menyerang tersebut, buku ini kemudian menafsirkan isi kitab Yudas dengan memberikan catatan-catatan dari beberapa literature yang lain.
Salut melihat kata pengantar buku ini ditulis oleh guru besar Pontifical Biblical Institute dengan kata-kata 'Temuan apa saja...entah itu temuan tekhnologi ataupun ilmu pengetahuan, layak dikaji dan diperiksa relevansinya dengan kehidupan'













