
Malam itu sepulang dari kantor, saya menyempatkan diri membeli beberapa buku stiker untuk keponakan saya. Saya mengunjungi sebuah toko buku rohani K di sebuah mal di depan kantor. Tidak ada rencana membeli sesuatu yang lain, seperti kebiasaan saya, saya hanya akan membeli apa yang telah saya rencanakan-buku stiker. Seraya melihat beberapa buku, saya didatangi seorang pramuniaganya. Setelah menyapa ia menjelaskan resensi buku yang saya pegang Disalibkan Media. Dengan fasih ia membongkar garis besar seluruh buku sambil mereferensi buku-buku lain yang sejenis, memberikan resensi singkat dan memilih yang paling baik menurutnya. Ini pertama sekali saya dilayani dengan luar biasa di sebuah toko buku dari sekian toko buku yang pernah saya kunjungi. Sang pramuniaga seperti seorang ahli perpustakaan yang menguasai isi rumahnya. Sedangkan rata-rata pramuniaga lain hanya mencari judul buku, kalau tidak ditemukan cukup dijawab dengan “habis” tanpa sedikit usaha tambahan mencari di sekeliling.
Berbicara mengenai tukang parkir, saya hanya mau mengatakan sebagian besar tukang parkir hanya peduli dengan uang yang mereka dapatkan setelah kendaraan parkir di lokasi yang mereka jaga. Tetapi yang ini berbeda. Seorang laki-laki sekitar 25 tahun dan menjaga lokasi disebuah tempat nongkrong di Jalan Setia Budi. Malam itu agak gerimis ketika saya akan meninggalkan tempat makan itu dan menuju sepeda motor saya. Ia dengan sopan menyapa lalu mengeringkan dudukan sepeda motor saya dengan sebuah lap yang ia siapkan. Seraya menarik sepeda motor saya, ia kemudian memberi isyarat memperlambat kendaraan yang datang dari belakang. Beberapa kali ia meminta maaf, karena pada saat saya mengeluarkan kendaraan ia tidak dapat membantu karena sedang membantu memarkir atau mengeluarkan kendaraan lain.
Mengalami kejadian-kejadian sederhana di atas seolah tak akan meninggalkan bekas jika kemudian saya tidak melihat saya dan pekerjaan saya. Dua orang di atas membekas dalam ingatan saya sampai beberapa minggu setelah saya menyadari bahwa keduanya memberi teladan yang berarti kepada saya bagaimana mereka “tidak sekedar” melakukan pekerjaan mereka. Mereka memberikan sesuatu nilai tambah dalam pekerjaan sederhana mereka yang tidak diberikan orang lain pada umumnya. Saya merasa ditegur dan malu jika sedikit-sedikit mengeluh mengenai pekerjaan, merasa cepat bosan seolah menganggap pekerjaan itu kutukan bukan sebuah berkat. Untunglah sesekali Tuhan menegur saya dengan cara yang amat halus melalui orang lain. Mereka berdua berhasil mendidik saya bagaimana seharusnya memberikan hal-hal yang terbaik dalam melakukan pekerjaan sekecil dan sesederhana apapun.









No comments:
Post a Comment