
tentu seksama kuhitung langkah-langkah yang berlalu kejam
pun satu per satu patok tahun ketenggang tak sadar
disertai senyum sinis matahari yang tergesa memasuki malam
Jika kuselami semua Kitab Klasik itu
tentu kutanyakan jiwaku sampai dimana ia bertangga
juga lembar-lembar terbaik diary hidupku
sambil tersadar tinta pena ini perlahan menipis
Dan di rembang tengah hari warna perak ini
berdiri aku di pusara jalan-jalan kotor dunia
Dipelototi Sang Pemilik bertanya menghakimi
“Dimana biji sesawi itu, dahan-dahan pohon ara dan buah-buah ranting anggur-Ku?”
“Kau letak dimana pelitamu, juga asin garammu dan kemana sabit penuaimu terpakai?”
Lama waktu terdiam mencari makna
ditemani getar-getar senja datang menggodam
Membisu segala pikirku menghimpun tenaga
bangkit mendobrak hangat-hangat kuku kehidupan
berjuang mengejar detak langkah para pembunuh waktu
Ah...
Biarlah masa-masa ini mengasah cinta sejati untuk-Nya
Meski lelah amat tangan mencatati peristiwa di batu hati
‘Ku
Walau apa terjadi









No comments:
Post a Comment